Penulis
: Rachmat Iskandar (Penggiat Benda Cagar Budaya)
Kobra Post.
Sarana pertahanan dalam
bentuk bundar silindris ini terbuat dari bahan beton masif. Di bagian tertentu
dari struktur bangunannya dilengkapi lubang pengintai. Masyarakat setempat
sekitar Kelurahan Lawang Gintung Kecamatan Bogor Selatan Kota Bogor sebenarnya
sudah lama mengenalnya.
Ditemukan tanpa sengaja
ketika di lahan yang dikenal sebagai lahan Gumati itu sedang membangun
peruntukkan restoran dan cafe. Pekerja proyek tersebut telah menghancurkan
salah satu dari empat bunker di lahan tersebut. Ternyata kemudian di beberapa
lokasi benda tersebut ditemukan, yaitu di belakang Gumati, serta di sekitar halaman rumah Bapak Djasni juga ditemukan walaupun pada bagian tertentu telah rusak.
Selain
itu di
lahan milik Bank Mandiri ditemukan dua buah bunker dalam keadaan utuh dan
terpelihara. Kedua bunker tersebut itulah yang menjadi obyek penelitian dan
ekskavasi oleh Tim dari Balai Arkeologi (BALAR), Bandung, Balai Perlindungan
Peninggalan Purbakala (BP3), Serang, Dr. Hasan Djafar dari FIB, UI dan DR. Uka
Tjandrasasmita dari Universitas Islam Negeri Jakarta/Dosen Fakultas Sastera Unpak
Bogor.
Menariknya lagi Bunker juga
ditemukan di lahan milik PT. KAI, tepat di belakang Istana Hing Puri Bimadakti.
Satu dari tiga Bunker tersebut, telah pecah dan sebagian melesak ke dalam tanah.
Adapun Bunker yang terletak
di lahan milik Abdurrahman Said Bajenet terawat dengan baik. Lahan yang
terletak di Jalan Lawang Gintung dekat kawasan Situs Embah Dalem itu diduga
lokasi Situs Sumur Tujuh dan heboh sesaat setelah muncul petaka angin puting
beliung melanda kawasan tersebut.
Penelitian awal hasil temuan
yang yang diindikasikan Benda Cagar Budaya (BCB) berupa Bunker dan artefak
budaya tinggalan masa prasejarah di wilayah Kecamatan Bogor Selatan dan Bogor
Barat, dilakukan pada 13 Februari 2009. Penyelanggaranya adalah Dinas
Kebudayaan dan Pariwisata Kota Bogor. Saat itu yang menjabat Kepala Disbudpar
adalah Drs. H. Ade Syarif Hidayat, M.Pd.
Sejarah penelitian awal,
pengkajian sampai proses penetapan
Bunker, satu dari lima BCB tersebut oleh Pemerintah Kota Bogor, telah melibatkan
tiga lembaga terkait yaitu Balar Bandung, DK3B Serang dan Perguruan Tinggi
yaitu UI, UIN dan Unpak Bogor.
Khusus untuk obyek bunker
dikaji mengenai fungsi, tata letak, dan masa pembuatannya. Sedangkan empat
temuan yang lain adalah fragmen kramik, batu dakon dan punden berundak. Empat
temuan lainnya yaitu batu tapak, batu dakon dan punden berundak.
Dari temuan BCB tersebut
yang paling baru masa pembuatannya adalah Bunker. Diperkirakan dibangun pada
masa Kolonial sekitar tahun 1935-1942.
Di dalam wujud fisik, Bunker
merupakan bangunan berbentuk silindris, dibuat dari bahan beton bertulang. Di
dalamnya membentuk ruang atau bergeronggang. Menilik dari garis tengahnya yang
sekitar 2,40 cm memiliki keleluasaan orang dewasa masuk ke dalamnya.
Adapun dimensi ketinggian
berbeda-beda. Tampak ada unsur pemikiran lokasi untuk merancangya. Misalnya di
lokasi temuan antara satu dengan lainnya berbeda. Bunker di lahan Resto-Cafe
Gumati, lahan eks PT Bank Mandiri dan di lahan PT KAI masing-masing ketinggian
berkisar antara 100-180 cm. Bunker yang memiliki ketinggian 180 cm terletak di
lokasi lahan PT Bank Mandiri, sedangkan yang paling pendek sekitar satu meter
terletak di pinggir rel kereta api jurusan Bogor-Sukabumi, tepatnya di belakang
Istana Batutulis.
Para peneliti belum ada yang
sepakat tentang fungsi Bunker tersebut.
Bangunan dengan bentuk silindris itu memiliki ketebalan sekitar 30 cm, dengan
rangka besi beton berukuran tebal 1 cm mungkin semacam sarana pengintai atau
semacam "veil box", berfungsi mengintai arah musuh yang datang.
Di beberapa bagian dari dinding
bunker terdapat lubang-lubang pengintai berbentuk empat persegi panjang dengan
dimensi 15×30 cm. Lubang-lubang intai itu tampak didesain sedemikian rupa
sehingga si pengintai bisa memanfaatkan arah pandang dan jarak pandang terhadap
obyek sasaran pandangnya. Dimensi lubang masuk yang pas untuk pengguna Bunker
juga berbeda, disesuaikan ketinggiannya.
Untuk Bunker dengan
ketinggian satu meter, lubang Bunker langsung dari permukaan tanah dari posisi
Bunker tersebut. Sedangkan Bunker dengan ketinggian 180 cm lubang masuk sekitar
70-80 cm dari permukaan tanah.
Berdasarkan tinjauan di
lapangan ketinggian Bunker dirancang untuk pemakaian sesaat lebih tepat sebuah
sarana untuk mengintai posisi musuh yang datang. Jika terjadi kontak senjata,
ketebalan dinding beton Bunker tak akan
mampu menembusnya.
Dari kajian di lapangan,
tata letak dan posisi Bunker itu tampak dirancang dengan memperhatikan kondisi
lingkungan sekitarnya. Semua posisi Bunker menempati ketinggian lahan yang
cermat dan strategis. Selain di lahan perbukitan seperti Bunker di lahan
Resto-Cafe Gumati dan PT Bank Mandiri, posisi ini sangat ideal saat menangkap
kemunculan obyek yang diintai. Begitu
pula dengan posisi Bunker di lahan PT KAI dan milik Abdurrahman Said Bajenet, sangat ideal
karena pengintai menangkap tepat sasaran pada obyek yang diintainya.
Penemuan Bunker dalam jumlah
yang relatif banyak yaitu sekitar sepuluh buah, tak hanya nenambah
perbendaharaan benda cagar budaya di
Kota Bogor, juga akan membuka sejarah masa Kolonial Belanda berikut
tinggalan-tinggalannya yang bermanfaat bagi perkembangan kebudayaan di Kota
Bogor. Kita tidak hanya melihat dari sisi buruk semata, Belanda yang telah
menjajah kita. Namun tidak bisa dipungkiri penjelajah, sejarahwan, arsitek
dan ilmuwan Belanda juga turut membuka
cakrawala perkembangan Sejarah Bogor.
Dari masa Pra Pajajaran,
masa Kolonial sampai pasca kemerdekaan. Tercatat misalnya, Abraham van Riebeeck
dan Tim Ekpedisi yang meninjau kawasan Pakuan Pajajaran, Johannes Rach, C. M.
Pleyte, K. F. Holle dan yang lainnya. Semuanya telah memberi dan membuka jalan
bagi pencerahan sejarah Bogor ke depan.


0 Comments