BOGOR, Kobra Post.
Kawasan Sunda, khususnya
Bogor, berdasarkan hasil penelitian arkeologis, telah
mengalami rentang budaya yang lama. Ragam tinggalan arkeoligis yang telah
ditemukan selama ini, hampir meliputi semua babakan-babakan budaya yang
meliputi masa Prasejarah, Klasik, Islam dan Kolinial.
Tinggalan budaya masa
Prasejarah di Kota Bogor antara lain Batu Congkrang, Ranggapati, Batu Dakon,
Batu Disolit dan Punden Berundak. Satu dari beberapa situs-situs tersebut
adalah Situs Purwakalih, semula dikenal dengan sebutan Patung atau Arca Purwa
Galih. Situs ini terletak di Jalan Lawang Gintung, tepat berseberangan dengan
Makom Kuno Embah Dalem.
Di dalam buku Sejarah Bogor
(1983), karya Saleh Danasasmita, menerangkan bahwa situs tersebut ditemukan
oleh Adolf Winkler tahun 1690 dan Abraham van Riebeeck tahun 1703. Riebeeck bahkan tiga
kali mengunjungi Patung Purwakalih tersebut yaitu tahun 1704 dan 1709. Baik
Winkler, maupun Riebeeck, kedua-duanya adalah pimpinan ekspedisi pasukan VOC
dalam rangka meneliti kawasan pinggiran Batavia.
Situs Purwakalih mempunyai
luas areal 39 meter persegi, yang di dalamnya terdapat bangunan bercungkup
berukuran sekitar enam meter persegi tersebut tampak agak tertutup dan
nyaris tidak menarik perhatian. Padahal situs ini memiliki nilai yang sangat
penting di dalam perjalanan sejarah Kota Bogor.
Di dalam buku Sejarah Bogor
yang ditulis oleh Saleh Danasasmita pada tahun 1983, diterangkan bahwa tahun
1911, Pleyte masih mencatat nama Poerwa Galih. Di sana terdapat tiga patung
yang menurut penuturan penduduk setempat dinamakan Patung Purwa Galih, Gelap
Nyawang dan Kidang Pananjung.
Selanjutnya diterangkan
lebih lanjut bahwa ketiga patung tersebut dijumpai dalam Babad Pajajaran yang
ditulis di Sumedang tahun 1816 pada masa Bupati yang dikenal dengan sebutan
Pangeran Kornel, kemudian disadur dalam bentuk pupuh pada tahun 1862.
Di beberapa daerah di Jawa
Barat patung-patung yang berpenampilan sama dengan Situs Purwakalih antara lain
ditemukan di Kampung Cibalai, Desa Tapos, Kecamatan Tenjolaya, Kabupaten Bogor.
Juga ditemukan pula di Desa Pejambon, Kecamatan Cirebon Selatan, Kabupaten
Cirebon.
Ciri-ciri patung secara
umum menampilkan bentuk yang sederhana. Tidak ada proses penghalusan dan pembentukkan ornamen.
Hanya dalam patung tertentu ada penggunaan gelang yang juga sederhana. Umumnya
dalam posisi mengelompok dan dengan berbagai posisi.
Keberadaan patung bertipe
Pajajaran tidak bisa melupakan penelitian yang telah dilakukan
oleh arkeolog Belanda J.F.G. Brumund dan N.J. Krom. Di dalam penelitiannya di
daerah Bogor dan Priangan menemukan arca-arca yang kemudian disebut arca tipe
Pajajaran. Oleh Brumund istilah arca tipe Pajajaran hanya digunakan untuk
menyebut arca Polynesia yang menunjukkan ciri-ciri Hindu-Buddha. Sedangkan arca
yang tidak menununjukkan ciri-ciri Hindu-Buddha tidak diberikan istilah
tersendiri. Selanjutnya N.J. Krom menyatakan bahwa setiap arca yang tidak
mempunyai ciri-ciri sebagai arca Hindu-Buddha yang menonjol adalah arca
Polynesia dan berfungsi sebagai arca pemujaan leluhur.
Menurut Krom arca Polynesia
dapat dibagi menjadi tiga kelompok, yaitu, arca yang berasal dari masa sebelum
Zaman Klasik. Kemudian dilanjutkan
sesudah pengaruh Hindu-Buddha dan tetap
berfungsi yang terdapat di daerah terpencil dan sudah terpengaruh oleh
kebudayaan Hindu-Buddha tetapi disesuaikan dengan konsepsi baru.
Berdasarkan pendapat Brumund
dan Krom dapat ditarik hipotesis bahwa di daerah Jawa Barat terdapat beberapa
tipe arca, yaitu arca yang berasal dari masa sebelum Klasik yang digunakan oleh
masyarakat terpencil. Arca semacam ini biasa disebut arca tipe Poynesia atau
arca Megalitik. Tipe arca yang kedua adalah yang telah mendapat pengaruh
Hindu-Buddha tetapi telah mengalami percampuran dengan kepercayaan asli. Arca
sejenis ini biasa disebut dengan arca tipe Pajajaran.
Berdasarkan paparan tentang
tipe arca yang telah diteliti oleh Brumund dan Krom, betapa pentingnya
keberadaan Situs Purwakalih di Kota Bogor. Situs tersebut dalam bentuk arca
yang sangat sedehana baik dalam bentuk anatomi maupun proses finishingnya.
Hal ini berbeda dengan arca
pada masa Hindu Buddha atau masa Klasik yang tampak lebih proporsional
anatominya, juga sudah melalui proses penghalusan sehingga tampak lebih indah.
Namun tak bisa kita hilangkan begitu saja nilai-nilai kesejarahan yang dimiliki
oleh arca-arca tipe Pajajaran seperti yang terungkap pada Situs Purwakalih.
Himbauan kepada Dinas
Pariwisata dan Kebudayaan Kota Bogor untuk berupaya dan berusaha mendekatkan
masyarakat dengan keberadaan situs-situs bersejarah, khususnya warga
Kota Bogor. Alangkah baiknya jika Dinas tersebut lebih memperhatikan kehadiran
Situs Purwakalih.
Upaya tersebut bisa dengan
menata kawasan sekitar situs dan mendesain lebih detail dengan membuat semacam
prasasti yang menerangkan sejarah dan makna yang terkandung di dalam Situs
Purwakalih tersebut. Dengan memberi nilai-nilai budaya lebih berarti dan obyektif masyarakat akan
lebih menghargai sejarahnya sendiri. ( Rachmat Iskandar)



0 Comments